Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Surakarta kembali memanggil para pemimpin dua bank yakni BCA dan BNI Syariah cabang Kabupaten Bogor.

Namun, para pemimpin kedua bank tidak hadir dari panggilan polisi tanpa penjelasan. Pemeriksaan pimpinan kedua bank itu terkait dengan kasus Pencucian Uang (TPPU) oleh bos Umrah dan biro Haji PT Usmaniyah Hannien Tour.

Dua bos Hannien Tour disebut sebagai tersangka dalam kasus ini, yaitu Direktur Utama Farid Rosidyn dan Direktur Keuangan Avianto Boedhy Satya. Keduanya telah dijatuhi hukuman 3,5 tahun penjara dalam kasus penipuan dan penggelapan di Pengadilan Negeri Solo (PN) pada 22 Mei 2018.

Umroh Hemat Dan Menyenangkan Dengan Travel Wisata Halal

“Kami mengirim surat panggilan kedua [kepada para pemimpin BCA dan BNI Syariah Bogor] pada pertengahan Desember lalu dalam kasus TPPU Hannien Tours. Namun, mereka tidak menghadiri Mapolresta Solo tanpa informasi yang jelas,” kata Kanit IV Satreskrim Polresta Surakarta, Iptu Sudarmiyanto, mewakili Kapolresta Kombes Pol. Ribut Hari Wibowo saat ditemui Solopos.com di kantornya, Senin (8/10/2018).

Sudarmiyanto mengungkapkan bahwa total enam bank digunakan oleh dua pelaku untuk menghemat uang milik calon jamaah umroh. Rekening bank dari enam bank telah diamankan oleh Satreskrim Kepolisian Kota Surakarta.

Semua buku rekening ini memiliki bukti transaksi uang dari calon peziarah Umrah, uang milik 10 anak perusahaan perusahaan ke markas besar Hannien Tours di Bogor. Buktinya adalah untuk transaksi selama tiga tahun sebelum kasusnya terungkap.

“Kami tidak menemukan uang tunai dalam berkas perkara untuk TPPU karena kedua pelaku telah menggunakan uang itu untuk keuntungan pribadi,” katanya.

Dia menjelaskan, keenam bank tersebut adalah BCA, Mandiri, BNI, BNI Syariah, BRI, dan CIMB Niaga. Semua bank ini berbasis di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menurut markas besar Hannien Tour.

Kepemimpinan bank BCA dan BNI Syariah belum diperiksa setelah dua panggilan polisi belum ditanggapi.

“Kami akan kembali mengajukan surat panggilan pemeriksaan ke dua pimpinan bank. Berkas kasus TPPU hanya menyiarkan informasi dari dua pimpinan bank. Setelah selesai, akan segera didelegasikan kepada Kejari [Jaksa Penuntut Umum] Solo,” katanya. .

Sudarmiyanto tidak berencana memanggil kepala kedua bank secara paksa. Dia menekankan bahwa Satreskrim mengedepankan pendekatan persuasif terlebih dahulu.

Wakasatreskrim Polresta, AKP Sutoyo, mengungkapkan bahwa file TPPU yang didelegasikan ke Kantor Jaksa Penuntut Umum adalah korban dari Hannien Tour dari Soloraya dengan korban tewas 494 orang dan kerugian sebesar Rp8 miliar.

Sementara total korban di 10 cabang Hannien Tour adalah 1.800 dengan kerugian sebesar Rp.41 miliar.

“Kami juga mempertanyakan dua tersangka di Pusat Penahanan Solo Kelas 1A pada awal September. Hasil investigasi menegaskan keberadaan TPPU,” kata Sutoyo.